Lelang Memorabilia Seringai untuk Korban Karhutla Kalteng
Grup rock Seringai melelang koleksi pribadinya dan menghimpun sekitar Rp37,5 juta untuk korban karhutla Kalteng. Simak barangnya dan pelajaran transparansinya.
Kabar baik datang dari panggung musik rock Indonesia. Grup musik asal Jakarta, Seringai, mengubah koleksi pribadinya menjadi bantuan nyata bagi warga yang terdampak kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah. Melalui serangkaian lelang memorabilia, mereka menghimpun dana sekitar Rp37,5 juta yang diarahkan untuk kebutuhan mendesak warga dan dukungan bagi relawan pemadam kebakaran di lapangan.
Kisah ini menarik bukan hanya karena nominalnya, melainkan karena caranya. Benda-benda yang selama ini tersimpan sebagai kenangan perjalanan bermusik justru dilepas kepada penggemar, dan hasil penjualannya dialihkan untuk orang-orang yang sedang menghadapi asap dan api. Di tengah kabar bencana yang datang silih berganti, gerakan seperti ini mengingatkan bahwa kepedulian bisa lahir dari apa pun yang kita miliki, termasuk dari hal-hal yang paling kita cintai.
Dari panggung ke lelang amal
Penggalangan dana ini tidak terjadi dalam satu malam. Ia berjalan bertahap sejak pertengahan September 2026, dengan masing-masing personel melelang koleksi pribadinya sendiri. Vokalis Arian13, pemain bass Sammy Bramantyo, dan drummer Edy Khemod terlibat di dalamnya, dan setiap lelang diumumkan melalui akun media sosial band maupun personelnya.
Pada Rabu, 28 Oktober 2026, Arian13 mengumumkan salah satu hasil terbesar dari rangkaian tersebut. Tiga belas lembar lirik lagu Selamanya yang ditulis tangan, dari album Seperti Api yang dirilis pada 2018, terjual dengan total Rp16,9 juta. Setiap lembarnya mula-mula ditawarkan dengan harga awal Rp1,3 juta, dan antusiasme penggemar membawa nilai akhirnya jauh melampaui angka pembuka itu.
Barang bersejarah yang berpindah tangan
Barang-barang yang dilelang bukan sekadar suvenir biasa. Setiap benda membawa cerita dari perjalanan panjang Seringai di atas panggung dan di studio rekaman.
Edy Khemod melelang bass drum head khusus yang ia pakai sejak proses rekaman album Seperti Api hingga penampilan-penampilan terakhir band sebelum memasuki masa hiatus, setelah gitaris Ricky Siahaan meninggal dunia. Memorabilia itu hanya ada satu, tidak pernah diproduksi ulang, dilengkapi tanda tangan seluruh personel, dan memakai grafis sampul album Seperti Api. Dalam pengumuman lelangnya pada 15 Oktober 2026, Edy menjelaskan bahwa seluruh hasil penjualan akan disalurkan untuk membantu masyarakat terdampak kebakaran hutan melalui lembaga yang kompeten. Barang itu akhirnya dimenangkan seorang penggemar dengan penawaran tertinggi Rp11 juta.
Sammy Bramantyo lebih dulu bergerak. Pada 16 September 2026, akun resmi Seringai mengumumkan lelang koleksi vintage pribadinya, dengan hasil yang disalurkan untuk korban karhutla melalui platform penggalangan dana Kitabisa. Koleksinya mencakup kaus resmi Seringai untuk label merchandise Bootleggers Ball karya Coki Singgih pada 2011, CD kompilasi Six The Hard Way dari 2010 yang memuat lagu sejumlah grup musik cadas Indonesia, serta pick bass dari berbagai periode perjalanan band, mulai dari album Serigala Militia hingga Seperti Api, termasuk edisi khusus Jägermeister. Satu set pick bass itu terjual dengan penawaran tertinggi Rp3,05 juta.
Ke mana dana itu mengalir
Yang membuat gerakan ini patut diapresiasi adalah kejelasan tujuannya. Dana yang terkumpul direncanakan untuk dibelanjakan menjadi kebutuhan utama di lapangan: masker, obat-obatan, vitamin, logistik, selang, alat pelindung diri, dan kebutuhan lain untuk Rumah Aman Asap, yaitu ruang aman bagi warga untuk berlindung dari paparan asap, serta untuk mendukung relawan pemadam api yang bekerja memadamkan kebakaran.
Arian13 juga menyampaikan rencana untuk menyusun laporan yang lebih lengkap mengenai penggunaan dana tersebut dan mengumumkannya kepada publik. Janji laporan semacam ini mungkin terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Donatur tidak hanya diajak memberi, melainkan juga diajak melihat ke mana pemberiannya pergi.
Pelajaran untuk para donatur: transparansi adalah daya tarik
Ada pelajaran penting yang bisa dipetik siapa pun yang ingin menggalang dana, termasuk yayasan dan komunitas. Kepercayaan publik tidak dibangun oleh ajakan yang paling lantang, melainkan oleh penjelasan yang paling jernih: apa yang dibutuhkan, berapa yang terkumpul, lewat jalur apa dana disalurkan, dan kapan laporannya dibagikan.
Lelang Seringai bekerja karena tiga hal itu terlihat. Barang yang dilelang jelas asal-usulnya, hasil setiap lelang diumumkan secara terbuka, dan rencana penggunaannya disebutkan secara rinci, bukan sekadar janji umum. Bagi yayasan, prinsip yang sama berlaku dalam skala apa pun. Satu halaman penggalangan dana yang memuat daftar kebutuhan, perkembangan donasi, dan laporan penyaluran akan jauh lebih meyakinkan daripada seruan tanpa kabar lanjutan.
Sebaliknya, donatur juga bisa memakai standar yang sama sebelum memberi. Tanyakan tiga hal sederhana: siapa penyalurnya, untuk kebutuhan apa dana itu dipakai, dan di mana laporannya bisa dilihat. Jika ketiganya bisa dijawab dengan terang, kemungkinan besar bantuan Anda berada di tangan yang tepat.
Bantuan tidak berhenti di hari pertama
Di hari yang sama, Kamis, 29 Oktober 2026, kabar lain datang dari Nusa Tenggara Timur dan mempertegas pelajaran yang sama dari sisi yang berbeda. Kapolda NTT Irjen Pol. Reza Arief Dewanto menyerahkan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak gempa bumi Flores di Kampung Translok Blok B, Desa Golo Tanggar, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Bantuan itu diserahkan secara simbolis kepada 16 perwakilan warga setelah rombongan tiba di lokasi sekitar pukul 08.00 WITA, dalam kunjungan hari kedua di wilayah tersebut.
Yang menarik, kunjungan itu tidak berhenti pada penyerahan bantuan awal. Polda NTT juga menyiapkan dukungan lanjutan berupa renovasi bangunan yang rusak akibat gempa dan pelayanan kesehatan bagi warga setempat, yang akan dikoordinasikan bersama jajaran Polres Manggarai Barat. Pesannya jelas: setelah masa darurat lewat, kebutuhan warga berubah. Rumah yang rusak perlu diperbaiki, dan kesehatan warga perlu dipulihkan. Bantuan yang baik adalah bantuan yang mengikuti perubahan kebutuhan itu, bukan yang berhenti pada kiriman pertama.
Jika Anda ingin ikut membantu
Anda tidak perlu menjadi musisi terkenal atau memiliki memorabilia langka untuk ikut ambil bagian. Bantuan sekecil apa pun berarti ketika disalurkan dengan benar. Jika Anda ingin membantu korban karhutla atau korban bencana lainnya, salurkan melalui lembaga atau kanal resmi yang mengumumkan penyalurannya secara terbuka. Periksa apakah lembaga tersebut menjelaskan kebutuhan yang dibiayai dan membagikan laporan penyalurannya. Hindari mengirim dana ke rekening pribadi yang tidak dapat diverifikasi, betapa pun meyakinkannya ajakan yang Anda terima.
Musik Seringai selama ini dikenal keras dan lantang. Kali ini, gema yang ditinggalkannya justru lembut: benda-benda kenangan berubah menjadi masker, obat, dan logistik bagi warga yang sedang berjuang melawan asap. Dan mungkin itulah bentuk kepedulian yang paling indah, ketika apa yang kita cintai bisa menjadi penolong bagi orang lain.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa dana yang dihimpun Seringai untuk korban karhutla?
Sekitar Rp37,5 juta, dihimpun dari lelang memorabilia dan koleksi pribadi tiga personel Seringai untuk korban karhutla di Kalimantan Tengah.
Barang apa saja yang dilelang Seringai?
Lirik lagu tulisan tangan, bass drum head bersejarah, kaus, CD kompilasi, dan pick bass dari berbagai periode perjalanan Seringai.
Untuk apa dana lelang Seringai digunakan?
Untuk kebutuhan mendesak warga terdampak seperti masker, obat-obatan, vitamin, dan logistik, serta mendukung relawan pemadam kebakaran.
Bagaimana cara berdonasi untuk korban bencana dengan aman?
Salurkan melalui lembaga atau kanal resmi yang menjelaskan penyaluran dan laporannya secara terbuka, dan hindari mengirim dana ke rekening pribadi yang tidak dapat diverifikasi.